Just another WordPress.com weblog

Mufassir Qur’an

Tafsir dan Para Mufassir

Jalan dan lika-liku hidup manusia yang sangat rumit dan berliku, membuat Al-Qur’an sebagai satu-satunya jalan yang pasti bagi kehidupan yang penuh kedamaian dan ketentraman. Allah menurunkan kitab-Nya Al-Qur’an untuk pedoman dan undang-undang bagi kaum muslimin dalam mengarungi liku-liku hidupnya.

Dengan pantulan sinarnya, hati mereka akan menjadi terang dan petunjuknya mereka akan mendapatkan jalan yang lempang. Dari ajaran-ajarannya yang lurus serta undang-undangnya yang bijaksana mereka dapat memetik suatu hal yang membuat mereka dalam puncak kebahagiaan dan keluhuran.

Al-Qur’an akan mengangkat mereka ke puncak keagungan dan kesempurnaan, membiasakan mereka untuk mengendalikan roda kemanusiaan, membuat mereka menjadi penghulu dan leluhur dalam arena kehidupan ini sehingga mereka dapat berjalan bersama-sama bangsa lain menuju hidup bahagia dan mulia serta mengantarkan mereka menuju lembah ketenteraman, ketenangan dan kedamaian.

Tidaklah diragukan lagi bahwa nilai hidup manusia dewasa ini berada dalam kegelapan, kebinasaan dan kejahilan, tenggelam dalam samudra penyelewengan dan terlena dalam pendewaan pada harta dan benda. Tidak ada lagi jalan yang dapat menyelamatkanya kecuali Islam, dengan jalan mengambil petunjuk ajaran-ajaran Al-Qur’an dan undang-undangnya yang sangat bijaksana. Di dalamnya terdapat seluruh aspek dan unsur kebahagiaan manusiawi yang telah digariskan berdasarkan pengetahuan Allah yang Maha Bijaksana. Secara mudah dan jelas bahwa melaksanakan ajaran-ajaran ini tidaklah akan berhasil kecuali dengan memahami dan menghayati Al-Qur’an terlebih dahulu serta berpedoman atas nasihat dan petunjuk yang tercakup di dalamnya. Yang demikian tidak akan tercapai tanpa penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Itulah yang kami maksudkan dengan Ilmu Tafsir, khususnya pada masa kini dimana bakat retorika bahasa Arab telah rusak dan spesialisasi bidang ini telah lenyap binasa sampai keturunan-keturunan Arab sendiri.

Tafsir adalah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Al-Qur’an. Tanpa tafsir orang tidak akan bisa membuka gudang simpanan tersebut untuk mendapatkan mutiara dan permata yang ada di dalamnya, sekalipun orang-orang berulangkali mengucapkan lafazh Al-Qur’an dan membacanya disepanjang pagi dan petang.

1. Al-Thabary

Biografi

Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabary. Beliau lahir di Amil pada tahun 225 H, dan wafat pada 28/10/310 H pada hari Ahad. Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz, pada usia 9 tahun beliau sudah mulai menulis hadis serta selalu mengadakan perjalanan intelektual ke negeri-negeri ulama. Beliau terkenal dengan kekuatannya dalam menghafal dan selalu faham dengan perkataan gurunya dalam menafsirkan berbagai disiplin ilmu. Khatib berkata: Ia adalah salah satu imam umat, perkataannya menjadi hukum dan pendapatnya selalu menjadi rujukan. Abu Abbas juga menambahkan: Ia adalah seorang faqih dan alim.

A. Pribadi Ibnu Jarir al-Thobary Namanya Abu Ja’far Muhammad Bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabary. Beliau dilahirkan di Thabaristan pada tahun 224 h. Kesungguhannya dalam menuntut ilmu patut diajungkan jempol. Diusia yang masih sangat belia, beliau keluar dari negeri kelahirannaya menuju beberapa wilayah yang menurutnya cocok untuk menimba ilmu. Diantara negara yang pernah dijelajahinya dalam pengembaraannya menunutut ilmu adalah; Mesir, Syam, Irak. Kemudian menghabiskan sisa usianya di Baghdad. Bapak sejarawan ini wafat di Baghdad pada tahun 310 h atau genap usianya 76 tahun.

B. Keilmuan Ibnu Jarir Ibnu Jarir adalah seorang imam yang kaya akan ilmu pengetahuan. Perkataanya banyak diikuti orang. Beliau menguasai banyak ilmu pengetahuan lengkap dengan disiplinnya yang ketika itu jarang bahkan tidak ditemukan ulama yang bisa menyamai keluasan dan kekayaan ilmu yang dititipkan Allah padanya. Beliau hafal alquran dan hadits serta banyak tahu perkataan sahabat dan tabiin (Atsar). Pengetahuannya terhadap atsar al-Shohabah wa al-Tabi’in terbukti ketika menafsirkan al quran Ibnu jarir banyak mengutip perkataan sahabat dan tabi’in. Keluasaan ilmu yang dimilikinya diakui oleh banyak orang.

Seperti disitir dari perkataan Abu Abbas bin Suraij “Muhammad bin Jarir adalah seorang yang faqih lagi berilmu pengetahuan tinggi”. Syekh Abu Ishaq al-Syairazy menempatkan Ibnu Jarir diantara deretan ahli faqih dan mujtahid.

Dan Syekh Abu Ishaq berkata ”Dia (Ibnu Jarir) memiliki madzhab yang diikuti banyak orang dan perkataannya banyak diadopsi ulama”. Kesaksian para ulama tentunya berdasarkan fakta. Beliau unggul dalam berbagai ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dikuasai beliau adalah ilmu qiraat, tafsir, hadits, sejarah dan lain sebagainya.

Adapun karya tulisnya yang terkenal adalah kitab tafsir, kitab al-qiraat, al-’adadu wa al-tandzil, kitab ikhtilafu al-ulama, tarikh al-umamu wa al-muluk, tarikh al-rijaal mina al-shahabah wa al-tabi’in, kitabu ahkam syaraa’ii al-islam, kitab ushuluddin.

Al-Thobary dimata para ahli tafsir adalah sosok yang berilmu pengetahuan tinggi dalam hal penafsiran al quran. Pengetahuannya yang luas dalam ilmu ini membuat beliau digelar sebagai Bapak Ahli Tafsir (Abu al-Tafsiir). Gelar lain yang diberikan kepada beliau adalah “Bapak Sejarawan Islam”(Abu Li Tarikh Islami). Gelar ini diberikan kepada Beliau karena para ahli sejara islam menjadikan karya tulis beliau “Tarikh al-Umamu wa al-Muluk”sebagai induk referensi dalam sejarah islam.

C. Tafsir al-Thobary dan Metodelogi Penafsirannya

1. Pandangan Para Ulama Terhadap Tafsir al-Thobary ketika seseorang ingin menggeluti dunia tafsir maka dia akan menjadikan tafsir al-Thobary sebagai referensi pertama dalam penafsiran al quran secara naqly. Pada saat yang sama para ahli tafsir tetap menjadikan tafsir al-Thobary referensi penafsiran secara ‘aqli. Ciri penafsiran beliau adalah meliputi: Istinbath hukum (mengeluarkan hukum) Tarjih ( Menyebutkan pendapat masing masing ulama pada sebuah permasalahan kemudian mengambil salah stu pendapat yang paling rajih berdasarkan dalil valid dan eksplisit Al-bahtsu al-harru al-dakiq (penelitian secara mendalam) Jika kita membuka beberapa kitab klasik(turost), maka kita akan menemukan sanjungan-sanjungan yang keluar dari mulut ulama sekaliber Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawy. Didalam al itqon misalnya, ahli hadits dan tafsir ternama, Imam Jalaluddin al-Suyuty mengatakan “……Dan kitabnya (Tafsir Ibnu Jari) adalah kiatab tafsir yang paling lengkap dan komplit. Ia menyebutkan pandangan-pandangan dari sumber yang berbeda, kemudian mengambil salah satu pendapat dan merajihkannya……”. Imam Nawawy berkata ” Jika umat ini berkumpul untuk mengarang sebuah tafsir, maka tidak seorang pun diantara mereka yang mampu menyayingi tafsir al Thobary”. Syekh Islam Ibnu Taimiayah menyanjung tafsir al-Thobary dengan mengatakan ” ….dan kitab-kitab tafsir yang ada di tangan manusia saat ini, yang paling unggul adalah tafsir Ibnu Jarir al-Thobary, karena Beliau menuqil maqoolat salafu sholihin dengan sanad yang kuat”. Didalam kitab Shohibu al-Lisan diceritan bahwa Ibnu Khuzaimah pernah meminjam kitab “Tafsir Ibnu Jarir”kepada Ibnu khaluwiyah. Setelah setahun membaca dan mempelajarinya, Ibnu Khuzaimah berkata “Setelah aku membaca dari awal sampai akhirnya (Tafsir Ibnu Jarir), belum seorang pun kutahu yang bisa menyayingi kecerdasan Ibnu Jarir”. Dari cerita ini dan beberapa ungkapan para ulama diatas mengindikasikan betapa Ibnu Jarir adalah seorang yang berilmu pengetahuan tinggi. Beliau tidak saja terkenal dibidang sejarah islam, tapi lebih dari itu. Beliau sangat ahli dalam ilmu tafsir sehingga diberi gelar mulia, Abu Tafsir. Hal ini juga lah yang mendorong Dr. Muhammad Husain al-Dzahaby mengatakan “Tafsir al-Thobary unggul dari dua segi jika dibandingkan dengan tafsir lain, yaitu unggul dari segi zaman dan keilmuan”

2. Metodelogi Ibnu Jarir Dalam Menafsirkan al-Quran Ketika kita membaca dan meneliti Tafsir Ibnu Jarir, maka kita akan tahu metodelogi penafsiarannya. Dr. Muhammad Husain al-Dzahaby menyebutkan metodelogi penafsiaran Ibnu Jarir, sebagai berikut : Ibnu Jarir mengawali tafsirnya dengan perkataan “al-qaulu fi ta’wiili qaulihi ta’ala kadza wa kadza” Beliau mengutip perkataan para sahabat dan tabi’in dengan sanad yang kuat (dalam Tafsir al-Ma’tsur). Contohnya, ketika menafsirkan Firman Allah Swt. Surah al-baqorah ayat (65) Beliau berkata ” haddatsani al-Mutsana, qoola: haddatsanaa Abu Hudzaifah, qoola : haddatsanaa Syibl ‘an Ibni Abi Najih, ‘an Mujahahid….” Ketika ada dua pendapat atau lebih yang saling berseberangan dalam penafsiran ayat al quran, Ibnu Jarir akan mengemukakan kedua pendapat tadi lengkap dengan masing-masing argumentasinya. Menguatkan salah satu pendapat yang berbeda denagn dalil ekdplidit dan alasan yang kongkrit (tarjih) Beliu meng’irabkan beberapa kalimat dalam ayat yang dibutuhkan ‘irab. Istinbath al-Ahkam (mengeluarkan hukum). Metode Tafsirnya Metode beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah metode Tafsir bil Ma’tsur. Tafsirnya berisi tentang munasabah dan makna-makna logika dalam ayat,serta mencantumkan hikmah dari kandungan mufradatnya. Beliau juga merujuk pada kaidah 7 ahruf. Selain beliau membubuhkan hadis Nabi, atsar dan aqwal tabi’in, beliau juga menjelaskan nama-nama Al-Qur’an, surah serta ayat-ayatnya. Beliau terkenal wara’ dalam menafsirkan, rajin dalam persiapannya dan gembira setelah menulisnya. Salah satu ciri tafsirnya adalah terdapat israilliyat dan ditambahkan opini pribadi di dalamnya, sehingga tafsirnya ada yang berpendapat belum memenuhi hajat kontemporer.

2. Fakh Al-Razy

Biografi

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin Husein bin Hasan bin Ali Al-Qurasy At-Taimy Al-Bakry, Ath-Thabaratany, Ar-Razy, bergelar Fakhruddin dan dikenal juga dengan sebutan Ibnu Al-Khathib. Beliau lahir pada 15 Ramadhan tahun 544 H dan wafat pada 606 H di Ray, ada yang mengatakan 605 H, tapi yang paling kuat adalah pendapat yang pertama akibat banyaknya buku yang meriwayatkan demikian.

Beliau melakukan perjalanan intelektualnya ke Kharazmi dan Khurasan. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri. Sebab pemahaman masyarakat pada masanya masih dangkal tentang agama, maka beliau menyusun tafsir yang dapat membuka cakrawala pemikiran masyarakat lebih mengangkasa. Ibnu Khilkan berkata: sesungguhnya Ar-Razy mengumpulkan segala gharib dan gharibah dalam tafsirnya.

Adz-Dzahaby menambahkan keistimewaan tafsir beliau adalah munasabah antara sebagian ayat dengan lainnya, antara surah dengan lainnya secara detail.

Metode Tafsirnya

Metode penafsiran beliau adalah tahlily ataupun ilmy. Menghimpun pendapat beberapa ulama tafsir dari kalangan sahabat maupun setelahnya. Mengutamakan munasabah antara surah dengan yang lainnya berdasarkan hikmah, membahas secara detail tentang ayat-ayat kauniyah yang dihubungkan dengan kalam tauhid aqliyah lainnya.. membubuhkan banyak pendapat filosof kalam setelah beliau menyaringnya serta telah merujuknya pada kitab-kitab hadis. Bila beliau menyebut ayat tentang hukum, beliau menyebutkan semua pendapat 4 Imam Madzhab, namun lebih cenderung pada madzhab Syafi’i. Penfsiran beliau dapat dikatakan membahas seluruh aspek keilmuan secara meluas, sehingga hampir melupakan tentang ilmu tafsir di dalamnya.

3. Asy-Syahid Sayyid Quthb

Biografi

Beliau lahir di kampung Musyah, kota Asyuf, Mesir pada tahun 1906. beliau dibesarkan dalam sebuah keluarga yang menitikberatkan pada ajaran Islam dan mencintai Al-Qur’an. Beliau telah bergelar hafizh sebelum berumur 10 tahun. Sayyid Quthb adalah seorang penulis Mesir, pendidik, aktivis Islam, penyair, dan menjadi intelektual gerakan Ikhwanul Muslimin setelah waftanya Hasan Al-Banna. Sayyid Quthb menjadi salah satu arsitek utama dalam kebangkitan Islam kontemporer, bersamaan dengan Abul A’la Maududi pendiri Jamaat Islami Pakistan. Quthb telah memberi bentuk ide-ide dan pandangan dunia yang telah memobilisasi dan memotivasi jutaan umat Islam seluruh dunia dari Malaysia ke Michigan – untuk berusaha kembali mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan dan berusaha merubah lembaga politik dan sosial sehingga mencerminkan prinsip-prinsip Islam.

Tulisan pertama Sayyid Quthb berjudul “Keadilan Sosial dalam Islam, yang ia tulis pada tahun 1949. Quthb menghabiskan waktunya pada tahun 1949 di Greeley Colorado AS untuk mempelajari kurikulum di Colorado State Teachers College (sekarang bernama Univeristas Utara Colorado). Apa yang ia lihat selama berkuliah disana mendorongnya untuk mengutuk AS sebagai negara yang hina, tempat yang penuh dengan kematerialisan dan ia berharap umat Islam tidak bercita-cita untuk tinggal disana.

Penulis dari 24 buku ini, termasuk novel, kritik karya sastra, telah bekerja pada bidang pendidikan, ia terkenal di dunia Muslim untuk karyanya yang dia yakini menjadi aturan sosial dan peran politik Islam, khususnya dalam bukunya Keadilan Sosial dalam Islam dan Ma’alim fi-l-Tariq (Petunjuk Jalan). Di samping tokoh-tokoh Islam terkenal lainnya seperti Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Quthb dianggap salah satu yang paling berpengaruh sebagai seorang aktivis pemikir Muslim era modern, bukan hanya karena ide-idenya namun atas kematiannya yang sangat heroik.

Pemikiran Sayyid Quthb oleh sebagian kalangan dituduh telah menjadi inspirasi bagi maraknya radikalisme Islam dan malah ada yang menuduh dirinya menyebarkan faham Takfir dan Tajhil, bahkan seorang Yusuf Qordowi pun menuduhnya begitu. Namun orang-orang yang hidup sejaman dengan dia dan pernah bergaul dekat dirinya telah membantah bahwa Sayyid Quthb penganut faham Takfir sembari menyatakan bahwa ia (Sayyid Quthb) masih dalam aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Karya tulisnya masih banyak tersedia dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa-bahasa dunia. Mayoritas ide pemikiran Sayyid Quthb dapat ditemukan dalam karya nya yang cukup fenomenal Tafsir Fii Zhilalil Quran.(fq/wb)[eramuslim]

Metode Tafsirnya

Metode penafsiran beliau adalah memandan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang komprehensif, dimana masing-masing bagian mempunyai keterkaitan dan kesesuaian, menekankan pesan-pesan pokok Al-Qur’an dalam memahaminya.

Beliau berpendapat bahwasalah satu tujuannya menyusun tafsir adalah untuk merealisasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Beliau juga menerangkan korelasi antara surat yang ditafsirkan dengan surat sebelumnya, sangat hati-hati terhadap israiliyat dan meninggalkan masalah ikhtilaf dalam ilmu fiqh dan tidak mau membahasnya lebih jauh,serta tidak membahas masalah kalam atau filsafat.

4. Zamakhsyary

Biografi

Nama lengkapnya adalah Al-Qasim Mahmud bin Umar Al-Zamakhsyary. Lahir pada bulan Rajab 467 H dan wafat pada tahun 538 H. Beliau melkukan perjalan ilmiahnya ke Baghdad, Khurasan dan Quds. Metode beliau adalah membawa penafsiran ayat-ayat aqidah ke dalam payung Mu’tazilah. Orientasi linguistik merupakan orientasi utama, melihat dan memperhatikan setiap mufradat suatu ayat untuk mengetahui maknayang diinginkan. Selain beliau menafsirkan secara majazy tentang ayat mutasyabih, beliau mengaitkan ayat dengan realitas. Nama lengkap Az-Zamkhsyari adalah Abu al-Qasim Mahmud bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 27 Rajab 467 H, bertepatan dengan tahun 1074 M di Zamakhsyar, suatu desa di Khawarizmi, terletak di wilayah Turkistan, Rusia. Ia hidup di lingkungan sosial yang penuh dengan suasana semangat kemakmuran dan keilmuan. Dan, wafat pada tahun 538 H, setelah ia kembali dari Makkah. Ia mendapatkan pendidikan dasar di negerinya, kemudian pergi ke Bukhara untuk memperdalam ilmunya. Ia belajar sastra (adab) kepada Abu Mudhar Mahmud ibn Jarir al-Dhabby al-Ashfahany (w. 507 H). — tokoh tunggal di masanya dalam bidang bahasa dan nahwu, guru yang sangat berpengaruh terhadap diri al-Zamakhsyari – kemudian mengadakan perjalanan ke Makkah untuk belajar. Untuk memperdalam pengetahuannya dalam bidang sastra, sebelum ia berguru kepada Abu Mudhar, ia berguru kepada Abi al-Hasan ibn al-Mudzaffar al-Naisabury, seorang penyair dan guru di Khawarizm yang memiliki beberapa karangan, antara lain: Tahdzib Diwan al-Adab, Tahdzib Ishlah al-Manthiq, dan Diwan al-Syi’r. Dalam beberapa buku sejarah, ia tercatat pernah berguru kepada seorang faqih (ahli hukum Islam), hakim tinggi, dan ahli hadis, yaitu Abu Abdillah Muhammad ibn Ali al-Damighany yang wafat pada tahun 496 H. Tercatat pula ia berguru kepada salah seorang dosen dari Perguruan al-Nizhamiyah dalam bidang bahasa dan sastra, yaitu Abu Manshur ibn al-Jawaliqy (446-539 H). Dan, untuk mengetahui dasar-dasar nahwu dari Imam Sibawaih, ia berguru kepada Abdullah ibn Thalhah al-Yabiry. Selama hidupnya Az-Zamakhsyari hidup membujang. Banyak komentar dari para ahli mengenai keadaan ini. Kita akan dapat memahami hal itu jika dipahami dari bait syair yang dirilis dan dilantunkannya sendiri tentang orang yang paling bahagia, yaitu orang yang tidak mempunyai anak dan tidak mendirikan rumah; Keistimewaan tafsirnya adalah memiliki keindahan bahasa, sehingga menjadi rujukan dalam aspek linguistik Al-Qur’an, namun beliau lebih fanatik terhadap madzhabnya-Mu’tazilah-, sehingga mengklaim kitab tafsirnya sebagai kitabyang terbenar dibanding lainnya serta lebih mengutamakan akal dan aqidahnya dari hadis shahih dan qira’at mutawattir.

5. Hamka

Biografi

Nama lengkapnya adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di tanah Sirah 16 Januari 1908. guru pertama beliau adalah ayah beliau sendiri,yang notabene berdarah orang shaleh mulai dari buyutnya. Buya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. HAMKA adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Dia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, disapa Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.

Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia. Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia. Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia.

Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai. Metode Tafsirnya Metode penafsiran yang beliau gunakan alah tahlily yang di padukan dengan aspek sastra dan sosila budaya. Antara naqly dan aqly, beraliran salafiyah yang bernuansa sufistik. Lebih terpengaruh dengan metode penafsiran Sayyid Quthb yang mengedepankan munasabah, mencantumkan asbabun nuzul, mufradat dan susunan kalimat. Sebagai tafsir pribumi yang monumental dalam sejarah, sehingga banyak menjadi rujukan dalam masalah sosial dan tasawwuf, walaupun banyak aspek ilmu yang tidak terbahas di dalamnya.

6. Muhammmad Abduh dan Rasyid Ridha

Biografi

Rasyid Ridha lahir di Qalmun , 27/5/1282 H, dan wafat pada tahun 1935 M. Setelah tamat di Kuttab beliau melanjutkan studinya pada Madrasah Ibtidaiyyah, satu tahun kemudian beliau pindah ke sekolah Islam Husain Al-Jisr. Beliau belajar hadis hingga khatam kepada Mahmud Nasyabah hingga bergelar Voltaire, kemudian dilanjutkan ke Abdul Ghani Ar-Rafi di tambah ilmu ushul dan logika.Muhammad Abduh banyak mempengaruhi pola pikirnya.

Beliau membagi waktunya untuk belajar dan ibadah, sehingga kurang waktunya untuk tidur ataupun istirahat. Beliau adalah ahli hadis dan memiliki cakrawala akalyang mendalam. Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli, Lebanon) pada 27 Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M.

Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Semasa kecilnya, Rasyid Ridha dimasukkan oleh orang tuanya ke madrasah tradisional di desanya, Qalamun, untuk belajar membaca Alquran, belajar menulis, dan berhitung. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Rasyid kecil lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain, dan sejak kecil memang ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Setelah menyelesaikan belajar baca tulisnya, dalam usia sekitar 17 tahun, Rasyid Ridha melanjutkan studinya ke Madrasah Al-Wathaniyyah Al-Islamiyyah, yaitu sekolah milik pemerintah di Kota Tripoli. Sekolah ini merupakan sekolah yang tergolong modern yang didirikan oleh Syaikh Al-Jisr, seorang alim ulama yang gagasan dan pemikiran keagamaannya telah dipengaruhi oleh ide-ide modernisme.

Di sini, Rasyid Ridha belajar pengetahuan agama dan bahasa Arab secara lebih mendalam. Selain itu, ia juga belajar ilmu bumi, ilmu berhitung, dan pengetahuan modern lain, seperti bahasa Prancis dan Turki. Namun, Rasyid Ridha tidak dapat lama belajar di sekolah ini karena sekolah tersebut terpaksa ditutup setelah mendapat hambatan politik dari pemerintah Kerajaan Usmani. Untuk tetap melanjutkan studinya, dia pun pindah ke salah satu sekolah agama yang ada di Tripoli. Meskipun sudah pindah sekolah, tetapi hubungan Ridha dengan guru utamanya saat di Madrasah Al-Wathaniyyah Al-Islamiyyah terus berlanjut. Sang gurulah yang telah banyak berjasa dalam menumbuhkan semangat ilmiah dan ide pembaruan dalam diri Rasyid Ridha di kemudian hari.

Di antara pikiran gurunya yang sangat berpengaruh adalah pernyataan bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan metode modern. Hal tersebut didasari kenyataan sekolah-sekolah yang didirikan bangsa Eropa saat ini banyak diminati oleh para pelajar dari seluruh penjuru dunia, padahal tidak disajikan pelajaran agama di dalamnya. Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-’Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris).

Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh dibuang ke Beirut pada akhir 1882, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya.

Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana. Di kota ini, Rasyid Ridha langsung menemui Muhammad Abduh dan menyatakan keinginannya untuk menjadi murid dan pengikut setia Abduh.

Sejak saat itu, Rasyid Ridha merupakan sosok murid yang paling dekat dan setia kepada Abduh. Syekh Muhamad Abduh bernama lengkap Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Beliau dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada 1850 M/1266 H, berasal dari keluarga yang tidak tergolong kaya dan bukan pula keturunan bangsawan. Muhammad Abduh hidup dalam lingkungan keluarga petani di pedesaan. Namun demikian, ayahnya dikenal sebagai orang terhormat yang suka memberi pertolongan. Semua saudaranya membantu ayahnya mengelola usaha pertanian, kecuali Muhammad Abduh yang oleh ayahnya ditugaskan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Pilihan ini bisa jadi hanya suatu kebetulan atau mungkin juga karena ia sangat dicintai oleh ayah dan ibunya.

Hal tersebut terbukti dengan sikap ibunya yang tidak sabar ketika ditinggal oleh Muhammad Abduh ke desa lain, baru dua minggu sejak kepergiannya, ibunya sudah datang menjenguk. Beliau dikawinkan dalam usia yang sangat muda yaitu pada tahun 1865, saat ia baru berusia 16 tahun. Pendidikan Muhammad Abduh dimulai dari Masjid al-Ahmadi Thantha (sekitar 80 Km. dari Kairo) untuk mempelajari tajwid Al-Qur’an. Setelah dua tahun berjalan di sana, pada tahun 1864 ia memutuskan untuk kembali ke desanya dan bertani seperti saudara-saudara dan kerabatnya.

Waktu kembali ke desa inilah ia dikawinkan. Walaupun sudah kawin, ayahnya tetap memaksanya untuk kembali belajar. Namun Muhammad Abduh sudah bertekad untuk tidak kembali. Maka ia lari ke desa Syibral Khit − tempat di mana banyak paman dari pihak ayahnya yang bertempat tinggal. Di kota inilah ia bertemu dengan Syaikh Darwisy Khidr, salah seorang pamannya yang mempunyai pengetahuan mengenai al-Qur’an dan menganut paham tasawuf asy-Syadziliah.

Pada periode ini, Muhammad Abduh sangat dipengaruhi oleh cara dan paham sufi yang ditanamkan oleh sang paman. Ia berhasil merubah pandangan pemuda ini dari seorang yang membenci ilmu pengetahuan menjadi menggemarinya. Beliau sempat kembali ke Masjid al-Ahmadi Thantha, kemudian menuju ke Kairo untuk belajar di al-Azhar, yaitu pada bulan Februari, 1866.

Di perguruan ini ia sempat berkenalan dengan sekian banyak dosen yang dikaguminya, di antaranya: Pertama, Syaikh Hasan ath-Thawi yang mengajarkan kitab-kitab filsafat karangan Ibnu Sina, logika karangan Aristoteles, dan lain sebagainya. Padahal, kitab-kitab tersebut tidak diajarkan di al-Azhar pada waktu itu; Kedua, Muhammad al-Basyuni, seorang ilmuan yang banyak mencurahkan perhatian dalam bidang sastra bahasa, bukan melalui pengajaran tata bahasa melainkan melalui kehalusan rasa dan kemampuan mempraktekkannya.

Ketika Jamaluddin al-Afghani tiba di Mesir, tahun 1871, kehadirannya disambut oleh Muhammad Abduh dengan menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang diadakan olehnya. Hubungan ini mengalihkan kecenderungan Muhammad Abduh dari tasawuf dalam arti yang sempit, sebagai bentuk tata cara berpakaian dan zikir, kepada tasawuf dalam arti yang lain, yaitu perjuangan untuk melakukan perbaikan keadaan masyarakat, membimbing mereka untuk maju, dan membela ajaran-ajaran Islam. Setelah dua tahun sejak pertemuannya dengan Jamaluddin al-Afghani, terjadilah perubahan yang sangat berarti pada kepribadian Abduh dan mulailah ia menulis kitab-kitab karangannya seperti Risalah al-’Aridat (1837), disusul kemudian dengan Hasyiah Syarah al-Jalal ad-Diwani Lil ‘Aqaid adh-Adhudhiyah (1875).

Dalam karangannya ini, Abduh yang ketika itu baru berumur 26 tahun telah menulis dengan mendalam tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam (teologi), dan tasawwuf, serta mengkritik pendapat-pendapat yang dianggapnya salah.

Di samping itu, Abduh juga menulis artikel-artikel pembaruan di surat kabar Al-Ahram, Kairo. Melalui media ini gema tulisan tersebut sampai ke telinga para pengajar di al-Azhar yang sebagian di antaranya menimbulkan kontroversi serta pembelaan dari Syaikh Muhammad al-Mahdi al-Abbasi, di mana ketika beliau menduduki jabatan “Syaikh al-Azhar”, Muhammad Abduh dinyatakan lulus dengan mencapai tingkat tertinggi di al-Azhar, dalam usia 28 tahun (1877 M). Setelah lulus dari tingkat Alamiyah (sekarang Lc.), ia mengabdikan diri pada al-Azhar dengan mengajar Manthiq (Logika) dan Ilmu Kalam (Teologi), sedangkan di rumahnya ia mengajar pula kitab Tahdzib al-Akhlaq karangan Ibnu Maskawaih dan Sejarah Peradaban Kerajaan-kerajaan Eropa. Pada tahun 1878, ia diangkat sebagai Pengajar Sejarah pada sekolah Dar al-’Ulum (yang kemudian menjadi fakultas) dan ilmu-ilmu bahasa Arab pada Madrasah Al-Idarah Wal Alsun (Sekolah Administrasi dan Bahasa-bahasa). Pada tahun 1879, Muhammad Abduh diberhentikan dari dua sekolah yang disebut terakhir dan diasingkan ke tempat kelahirannya, Mahallat Nashr (Mesir), berbarengan dengan terjadinya pengusiran terhadap Jamaluddin al-Afghani oleh pemerintah Mesir atas hasutan Inggris yang ketika itu sangat berpengaruh di Mesir. Akan tetapi, dengan terjadinya perubahan Kabinet pada 1880, beliau dibebaskan kembali dan diserahi tugas memimpin surat kabar resmi pemerintah, Al-Waqa’i al-Mishriyah. Surat kabar ini, oleh Muhammad Abduh dan kawan-kawan bekas murid Al-Afghani, dijadikan media untuk mengkritik pemerintah dan aparat-aparatnya yang menyeleweng atau bertindak sewenang-wenang. Setelah Revolusi Urabi tahun 1882 (yang berakhir dengan kegagalan), Muhammad Abduh yang ketika itu masih memimpin surat kabar Al-Waqa’i, dituduh terlibat dalam revolusi tersebut, sehingga pemerintah Mesir memutuskan untuk mengasingkannya selama tiga tahun dengan memberi hak kepadanya memilih tempat pengasingan, dan ia memilih Suriah. Di Negara ini Muhammad Abduh menetap selama setahun. Kemudian ia menyusul gurunya, Jamaluddin Al-Afghani, yang ketika itu berada di Paris. Di sana mereka berdua menerbitkan surat kabar Al-’Urwah al-Wutsqa, yang bertujuan mendirikan Pan-Islam dan menentang penjajahan Barat, khususnya Inggris. Tahun 1884 Muhammad Abduh diutus oleh surat kabar tersebut ke Inggris untuk menemui tokoh-tokoh negara itu yang bersimpati kepada rakyat Mesir.

Tahun 1885 Muhammad Abduh meninggalkan Paris menuju ke Beirut (Libanon) dan mengajar di sana sambil mengarang beberapa kitab, antara lain:

1. Risalah at-Tauhid (dalam bidang teologi);

2. Syarah Nahjul Balaghah (Komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib);

3. Menerjemahkan karangan Jamaluddin al-Afghani dari bahasa Persia, Ar-Raddu ‘Ala ad-Dahriyyin (Bantahan terhadap orang yang tidak mempercayai wujud Tuhan); dan

4. Syarah Maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamazani (kitab yang menyangkut bahasa dan sastra Arab).

Di Beirut, aktivitas Muhammad Abduh tidak terbatas pada mengarang dan mengajar saja, tetapi bersama beberapa tokoh agama lain mendirikan sebuah organisasi yang bertujuan menggalang kerukunan antar umat beragama.

Organisasi ini telah membuahkan hasil-hasil positif, terbukti dengan dimuatnya artikel-artikel yang mengangkat ajaran Islam secara objektif pada media massa di Inggris, padahal ketika itu jarang sekali dijumpai hal serupa di media Barat. Namun, organisasi ini dan aktivitas anggota-anggotanya dinilai oleh penguasa Turki di Beirut mempunyai tujuan-tujuan politik, sehingga penguasa tersebut mengusulkan kepada pemerintah Mesir untuk mencabut hukuman pengasingan Muhammad Abduh dan diminta segera kembali ke Mesir. Pada 1888, Muhammad Abduh kembali ke tanah airnya dan oleh pemerintah Mesir ia diberi tugas sebagai hakim di Pengadilan Daerah Banha. Walaupun ketika itu Muhammad Abduh sangat berminat untuk mengajar, namun pemerintah Mesir agaknya sengaja merintangi, agar pikiran-pikirannya yang mungkin bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah ketika itu tidak dapat diteruskan kepada putera-puteri Mesir. Terakhir, ia ditugaskan di Pengadilan Abidin, Kairo. Kemudian, pada 1899 ia diangkat menjadi Mufti Kerajaan Mesir dan pada tahun yang sama Muhammad Abduh juga menjabat sebagai anggota Majelis Syura Kerajaan Mesir, seksi perundang-undangan. Pada tahun 1905, Muhammad Abduh mencetuskan ide pembentukan Universitas Mesir. Ide ini mendapat respon yang begitu antusias dari pemerintah maupun masyarakat, terbukti dengan disediakannya sebidang tanah untuk maksud tersebut. Namun sayang, universitas yang dicita-citakan ini baru berdiri setelah Muhammad Abduh berpulang ke Rahmatullah dan universitas inilah yang kemudian menjadi “Universitas Kairo”. Pada tanggal 11 Juli 1905, saat masa puncak aktivitasnya membina umat, Muhammad Abduh meninggal dunia di Kairo, Mesir. Yang menangisi kepergiannya bukan hanya umat Islam, tetapi ikut pula berduka di antaranya sekian banyak tokoh non-Muslim.

Selain yang telah disebutkan di atas, selama hidupnya beliau juga melahirkan beberapa karya lain, yaitu: 1. Tafsir al-Qur’an al-Hakim (belum sempurna, kemudian dirampungkan oleh Rasyid Ridha); 2. Khasyiah ‘Ala Syarh ad-Diwani li al-‘Aqaid adh-‘Adhudhiyat; 3. Al-Islam wa an-Nashraniyat ma’a al-‘Ilm wa al-Madaniyat.

Syekh Muhammad Abduh menggerakkan dan mempelopori kebangkitan intelektual pada paruh kedua abad ke–9. Kebangkitan dan reformasi dipusatkan pada gerakan kebangkitan, kesadaran, dan pemahaman Islam secara komprehensif, serta penyembuhan agama dari berbagai problem yang muncul di tengah-tengah masyarakat modern.

Ada dua fokus utama pemikiran tokoh pembaharu Mesir ini; Pertama, membebaskan umat dari taqlid dengan berupaya memahami agama langsung dari sumbernya – al-Qur’an dan Sunnah – sebagaimana dipahami oleh ulama salaf sebelum berselisih (generasi Sahabat dan Tabi’in). Kedua, memperbaiki gaya bahasa Arab yang sangat bertele-tele, yang dipenuhi oleh kaidah-kaidah kebahasaan yang sulit dimengerti. Kedua fokus tersebut ditemukan dengan sangat jelas dalam karya-karya Abduh di bidang tafsir. Metode Tafsirnya Metode tafsirnya adalah menafsirkan ayat-ayat secara adab ijtima’i, meninggalkan ayat-ayat mutasyabihat dan mubhamat. Selain beliau menafsirkan Al-Quran secara kontemporesasi, beliaujuga menafsirkan ayat-ayat menurut logikanya.

Kelebihan tafsirnya adalah mampu merombak kehidupan manusia yang masih banyak mengikuti taqlid, mengajak manusia untuk lebih maju dalam peradaban, membantu menyebarkan ajaran Islam dari segi pemahaman dakwah dan amal. Namun tafsirnya juga memiliki kekurangan, yaitu hanya berlatar belakang Mesir dan tidak mendunia, diantara hadis yang sudah dianggap shahih secara mutawatir dianggapnya tidak shahih. •

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: