Just another WordPress.com weblog

Homo Homini Lupus

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. “Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.” (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi.”Berhati-hatila

h dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43).”

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan.”Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya”.

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari – Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari “homo homini lupus”.

Taken from:
http://andaleh.blogsome.com/2009/09/02/memaafkan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: