Just another WordPress.com weblog

Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar.

Banyak ayat didalam al-Quran yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan al-Quran. Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatul Qadar dalam sepuluh hari terakhir.

Sebagaian orang menunggu kedatangan malam itu dengan berlama-lama di masjid sambil membaca al-Quran. Ada yang menunggunya di depan rumah agar dapat melihat turunnya malaikat pada malam Qadar, dan tidak kurang juga yang menyambutnya dengan sinaran-sinaran lampu-lampu minyak agar kawasan mereka diterangi. Mereka begitu yakin dengan beberapa tanda-tanda yang banyak diceritakan dalam berbagai cerita sejarah.

Ada suatu hal yang masih tersimpan dalam benak hati kita semua. Sebuah pertanyaan terdalam. Pernahkah Nabi Muhammad SAW melihat langsung Lailatul Qadar? Adakah sahabat-sahabat juga pernah melihatnya? Kita pernah mendengar banyak hadis-hadis yang menceritakan tanda-tanda malam tersebut, adakah kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita sendiri.

Cara yang paling bijak bagi kita menjawab persoalan ini marilah kita lihat tafsiran beberapa ahli tafsir termasuk melihat tanda-tanda tersembunyi yang sering diceritakan itu.

Tafsir Surat Al-Qadar

Satu surat yang begitu signifikan menceritakan mengenai peristiwa malam tersebut ialah surah al-Qadar yang berisi 5 ayat. Surat Al-Qadar adalah surat ke 97 menurut susunannya di dalam Mushaf. Ada di antara ulama-ulama mengatakan bahwa surat al-Qadar ini turun selepas hijrahnya Nabi saw ke Madinah.

Di dalam membicarakan pentafsiran ayat, amatlah bijak jika kita mengambil penafsiran yang diambil dari Tafsir Jalalain:

Kesimpulannya bahwa malam al-Qadar itu secara sejarahnya di turunkan al-Qur’an dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Kemuliaan malam tersebut telah dikabarkan kepada Rasulullah SAW. Bulan itu dikatakan satu bulan dengan barakah seperti 1000 bulan. Di malam tersebut para malaikat-malaikat dan Jibril turun ke bumi dan memohon Allah mengkabulkan doa’-do’a hamba-Nya. Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar.

Pentafsiran yang lebih terperinci sedikit mengenai ayat pertama surah al-Qadar ini dapat kita lihat dari Tafsir Ibnu Kathir:

Allah SWT telah mengabarkan sesungguhnya Ia telah menurunkan al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar. Dimana Allah berfirman, “Sesungguhnya kami turunkannya di malam yang barakah”. Inilah yang kemudian dikenal sebagai malam al-Qadar yang ada dalam bulan Ramadhan sebagaimana firman-Nya, “Pada bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya al-Qur’an”.

Berkata Ibnu Abbas bahwa Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an keseluruhannya (secara total) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah dari langit dunia kemudian ia diturunkan secara berpisah dan berperingkat selama 23 tahun ke atas Nabi SAW, kemudian firman Allah beliau memuliakan Lailatul Qadar dimana Allah SWT telah mengizinkan penurunan al-Qur’an.

Keistimewaan Lailatul Qadar

Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi merujuk kepada surah al-Qadar di dalam membicarakan persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, katanya :

“Allah telah memuliakan al-Qur an di malam ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan. Apa-apa ketaatan dan ibadah di dalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar. 1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan. Hanya di satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan”.

Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya. Dan kesejahteraanya melimpah sehingga ke terbit fajar. Di dalam as-Sunnah, banyak hadis-hadis yang menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir. Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu Hurarirah, “Barangsiapa yang berqiam di malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya”. (Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum).

Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang dirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat yang telah dinaungi mereka bulan Ramadan, “Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kamu di dalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang”. (Riwayat Ibnu Majah dari Hadis Anas, isnad hasan sebagaimana didalam Sahih Jaami’ Al-Saghir).

Sheikh Ibnu Taimiyyah (Majmu’ fatawa – Jilid-25/286) di dalam membicarakan hal yang mana satu lebih afdal, di antara malam Isra’ Nabi SAW atau Lailatul Qadar? Kata: “Sesungguhnya malam Isra’ lebih afdal dan malam al-Qadar lebih afdal bila dinisbahkan kepada umat…”. Manakah yang lebih afdal 10 Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan? Kata Ibnu Taimiyyah, “Hari 10 Dzulhijjah lebih afdal dari hari 10 dari bulan Ramadhan. Dan malam-malam 10 akhir Ramadhan lebih afdal malam 10 Dzulhijjah”. Jelas menunjukkan bahwa para ulama menyatakan bahwa malam al-Qadar ini sangat istimewa kepada umat Muhammad SAW.

Dapatkah Lailatul Qadar dilihat dengan mata?

Dua tokoh ulama’ Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid berkata: “Malam Qadar boleh dilihat dengan mata kepada siapa yang diberi taufiq oleh Allah SWT dan dengan menggunakan tanda-tandanya. Para sahabat mencarinya berdasarkan tanda-tandanya tetapi tiada laporan yang mengatakan mereka telah melihatnya. Akan tetapi tidak ada larangan mencari hasil fadilah bagi siapa yang beriman dan bersungguh-sungguh”, kata beliau.

Sheikh Al-Sya’rawi mengatakan: “Satu pun diantara makluk Allah tidak melihat Lailatul Qadar melainkan Rasulullah SAW. Ini adalah satu keistimewaan yang diberikan kepada Rasulullah SAW. Selain itu, ada beberapa orang yang dilaporkan pernah melihatnya. Mereka yang melihatnya berkata-kata kepada Rasulullah yang melihat beliau pandangan di dalam tidur mereka, seolah-olah berkata: “Aku melihat sebagaimana aku sujud di dalam air yang melimpah, kemudian menjadi pagi hari 23, mereka melihat masjid-masjid di sepanjang malam tersebut. Langit seolah-olah ingin hujan, Rasulullah sujud sehingga kelihatan dahi di atas tangannya dan kami mengetahui bahwa di sini adalah Lailatul Qadar di dalam tahun dan malam itu”.

Haruskah Mencari Lailatul Qadar?

Ada beberapa hadis yang menunjukkan betapa ruginya seseorang yang tidak pernah berusaha mencari Lailatul Qadar. Menurut Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid beliau berkata; “Seorang Islam haruslah mencari malam 10 terakhir Ramadhan sebagaimana Rasulullah SAW mengarahkan umatnya menuntut ganjaran dan pahala di mana seseorang yang mendirikannya dan iman dan azam malam tersebut, dia akan menerima ganjarannya dan jika tidak bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Barangsiapa yang berqiam di malam Qadar dengan keimanannya maka Allah akan mengampunkan dosanya yang telah lalu”. Dalam riwayat lain, “Barangsiapa yang berqiam dan mencarinya kemudian ia akan diampunkan dosa yang sebelumnya dan yang terakhir.”

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Menurut Sheikh Abdul Khaliq Al-Sharrif bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar akan ditunjukkan pada pagi harinya matahari akan memancar dan cuacanya yang agak sejuk. Sheikh Saleh Munajjid mengatakan bahwa matahari yang keluar itu tidak memancarkan cahaya. Sheikh Dr Yusuf Qaradhawi mengatakan terdapat juga berbagai tanda, seperti cahayanya merah kelemah-lemahan dan pada malam itu hujan dan angin sepoi-sepoi, tiada bau dan tiada sejuk sebagaimana yang disebut oleh Al-Hafiz dalam Fathul Bari’.

Kata Al-Qaradhawi:

“Semua tanda ini tidak memberi kepastian mengenainya. Tidak mungkin ia berulang-ulang, karena malam al-Qadar selalu berbeda-beda cuacanya dalam berbagai negara, berbeda pula waktunya. Ia mungkin dijumpai di sebuah negara Islam yang tidak putus hujannya, dan kemungkinan di negara lain yang keluarganya bersholat istiqo’ yang berdepan dengan kemarau, dan negara-negara berbeda dari segi kepanasan dan kesejukannya, naik matahari dan turunnya, kuat atau lemah pancarannya, maka mustahil untuk mendapat titik pertemuan ini. Kajian ulama’ mengatakan: boleh di ambil malam-malam yang tertentu Lailatul Qadar itu dari sebagian manusia. Ia hanya kelihatan kepada dia seorang saja yang melihatnya. Atau menerima mimpi di dalam tidur, atau berlaku (karamah) keajaiban yang luar biasa. Atau itu terjadi kepada keseluruhan umat Islam agar ia menerima ganjaran kepada siapa saja yang berpeluang melakunya. Dan itu tidak tampak apa-apa yang berlaku. Kebanyakkan ulama’ mengambil pandangan yang awal tadi.

Amalan Saat Lailatul Qadar

Kemuliaan malam tersebut dan seruan-seruan dari hadist-hadist yang menyuruh umat Islam mencari malam tersebut mungkin akan menimbulkan sedikit pertanyaan. Apakah malam itu khusus bagi mereka-mereka yang alim saja atau bisa berlaku bagi masyakat umum. Yusuf Qaradawi mengatakan bahwa malam itu datang untuk semua orang yang benar-benar menginginkannya. Kata Qaradhawi:

“Maka malam al-Qadar ialah malam umum untuk semua yang menuntutnya. Yang menginginkan kebaikan dan ganjarannya, dan apa yang di sisi Allah di dalamnya, itulah malam ibadah dan malam ta’at, shalat, bertilawah, berdo’a, bersedekah, menjalinkan perhubungan, beramal sholeh, dan melakukan kebaikan-kebaikan”.

“Yang harus dilakukan oleh orang Islam pada malam al-Qadar ialah; sholat Isya’ secara berjamaah, sholat Subuh berjamaah dan pada malamnya mendirikan qiamullail. Di dalam hadist sahih diriwayatkan, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang shalat Isya’ berjamaah, seolah-olah ia berqiam di separuh malam, dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, seolah-olah ia shalat di sepanjang malam tersebut. (Riwayat Ahmad, Muslim).

Sheikh Atiyah Saqr menganjurkan:

Hidupkan malam al-Qadar dengan shalat, membaca al-Quran, berdzikir, beristighfar dan berdo’a dari terbenam matahari sehingga terbit fajar. Dan hidupkan Ramadhan dengan shalat tarawih di dalamnya. Sebuah riwayat mengatakan, “Barangsiapa yang shalat Maghrib dan Isya’ di hari akhir yaitu di malam al-Qadar secara berjama’ah, ia telah diberi keuntungan dari Lailatul Qadar”. Berkata A’isyah: “Ya Rasulullah di waktu Lailatul Qadar, apakah yang harus aku katakan”. “Katakanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau pengampun dan suka kepada pengampunan, maka ampunkanlah aku…”

-Cha’unk El Fakir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: